Langsung ke konten utama

"Sebagian Kesalahan Dalam Mendidik Anak Dan Solusinya Menurut Islam"

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 

Nama : Alfikri Nugraha Nim : 12001167 Kelas : 4 D PAI Makul : Media Pembelajaran PAI Dosen Pengampu : 1. Drs. H. Fahrul Razi, M.Pd 2. Firmansyah, M.Pd

MUQADDIMAH

    Alhamdulillahi segala puji bagi Allah ﷻ yang dengan nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna, saya bersyukur kepada Allah sebagai hamba yang berusaha menunaikan hak-nya, ucapan syukur sebagai hamba yang memohon tambahan nikmat-nya dan ucapa syukur sebagai hamba yang takut akan murka dan siksanya.

    Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang istiqomah mengikuti petunjuk mereka  Amma Ba'du:

   Tulisan ini adalah hasil ringkasan saya dari buku "Min Akhtoo'inaa Fii Tarbiyati Aulaadinaa Wa Thuruqu 'Ilaajihaa Fil Islam" (Sebagian kesalahan dalam mendidik anak dan solusinya Dalam Islam) yang ditulis oleh DR. Muhammad bin Abdullah bin Shalih as-Suhaimi Hafizhahullahu salah satu guru besar Divisi Studi Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Al-Malik as-Su'ud walaupun tidak mencakup seluruh pembahasan dari buku ini dan namun sebagaimana yang disebutkan dalam kaidah fiqih: ما لا يدرك كله لا يترك كله "Apa yang tidak dapat diraih semuanya maka jangan ditinggalkan semuanya."

    Saya memohon kepada Allah ﷻ agar apa yang saya usahakan bermanfaat bagi yang membacanya. Sesungguhnya Allah ﷻ maha kuasa atas segala sesuatu.

1. Takut Kepada Orang Lain

  Kebanyakan para pendidik sekarang telah memalingkan anak didiknya dari rasa muraqabah (Pengawasan) Allah, pendidikan yang melahirkan ketidaktakutan kepada Allah, bahkan tumbuh subur dalam jiwa anak didik rasa takut kepada orang lain dan merasa diawasi oleh mereka. Hal ini diakibatkan oleh rasa takut dari celaan orang lain yang menguasainya semenjak kecil, dia didoktrin bahwa melakukan perbuatan dan meninggalkan perbuatan itu untuk mendapatkan ridha orang lain, untuk mendapatkan kasih sayang dan pujian orang lain dan untuk menghindari celaan dan kemurkaan orang lain. pendidikan seperti inilah yang melahirkan rasa takut kepada orang lain yaitu seperti ucapan mereka kepada anak didiknya:

"Jauhilah perkataan ini agar orang lain tidak menertawakanmu!   

"Kerjakanlah perbuatan ini agar dicintai orang lain!

"Apa nanti yang akan dikatakan orang lain ketika kamu melakukan perbuatan ini dan itu sedangkan kamu anak fulan bin fulan!

   Metode seperti ini bisa mewariskan pada diri anak tanpa dia sadari riya' dalam beramal. metode semacam ini mendorong anak didik untuk berkata perkataan yang menjadi keinginan masyarakatnya tanpa memperdulikan keridhaan dan kemurkaan Allah . Diantara akibat buruk metode pendidikan ini adalah kesulitan anak didik untuk meninggalkan perbuatan yang menyelisihi kebenaran setelah jelas kesesatannya karena takut kritikan, celaan dan cemoohan orang lain.

   Maka sudah semestinya bagi seorang murabbi untuk merasakan besarnya tanggung jawab yang dipundaknya, dia harus menanamkan pada diri anak didiknya rasa muraqabah (pengawasan) Allah dalam sendirian maupun keramaian. dia harus mendidik anak didiknya untuk beramal demi merealisasikan ibadah hanya kepada Allah baik dalam keadaan sempit maupun lapang seperti perkataannya kepada anak didikny: "Wahai anakku, tinggalkanlah perbuatan ini, niscaya Allah mencintaimu, Jangan kerjakan ini agar Allah tidak murka, kerjakanlah ini dan itu, niscaya kamu mendapatkan surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.

   Mu'awiyah Radiyallahu 'Anhu menulis surat kepada 'Aisyah Radiyallahu 'Anhuma "Tulisalah surat kepadaku, surat yang berisi wasiat untukku dan jangan berpanjang lebar dalam berwasiat," kemudian 'Aisyah menulis surat kepada Mu'awiyah yang isisnya, "Aku mendengar Rasulullah bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

    Imam Ibnu Hazm Rahimahullah setelah meneliti dan mentadabburi kitab "Mudawatun Nufus" beliau berkata, "Ini adalah bab agung berkenaan dengan akal dan ketenangan, yaitu sikap tidak menghiraukan perkataan orang lain, akan tetapi dia hanya memperhatikan perkataan sang pencipta dan orang yang bisa selamat dari celaan orang lain dan cemoohan adalah orang gila (Mudawatun Nufus Ibnu Hazm al-Andalusi hal: 45, cetakan: Daarul Masyriq al-Arabi kairo, cetakan pertama 1408 H).

2. Mengajarkan Perkara-Perkara Sepele Kepada Anak Didik

    Mayoritas anak didik kita yang bertambah usianya namun tidak mengetahui tujuan hidupnya, bahkan mereka acuh tak acuh dengan tujuan hidupnya. Visi Misi hidupnya melemah, bahkan hampir punah dikarenakan metode tarbiyah yang hanya terfokus pada perkara-perkara yang belum jelas dengan melalaikan perkara-perkara yang telah pasti.

    Tarbiyah tersebut hanya terfokus pada perkara-perkara sepele dan cita-cita yang cetek yang tidak ada perbedaannya antara muslim dan kafir bahkan terkadang binatang lebih unggul daripada manusia.

   Untuk membuktikan hal ini, saya telah melontarkan sebuah pertanyaan kepada murid-murid yaitu: Mengapa kamu belajar ?

  Jawaban mayoritas mereka akan mengejutkan karena tujuan belajar mereka adalah untuk mendapatkan sesuap kehidupan, kedudukan tinggi, rumah luas dan kendaraan mewah...

    Jikalau seandainya mereka berkeyakinan bahwa mereka memiliki kewajiban terhadap agama dan umatnya, jikalau seandainya mereka berkeyakinan bahwa cara untuk mewujudkan kewajiban ini adalah ilmu yang akan meninggikan derajatnya di dunia dan diakhirat, yang akan mengembalikan umat ini menuju kedudukannya yang mulia niscaya dia akan menganggap segala usaha dan upaya yang dia kerahkan dan jalani untuk menempuh jalan ini sangatlah murah dan dia akan menganggapnya sebuah kerugian.

     Di antara akibat buruk dari arah tarbiyah yang salah ini adalah lahirnya jiwa yang dikuasai syahwat, mencetak jiwa-jiwa yang inferior, melalaikan dari tujuan utamanya, puas dengan kehinaan, jauh dari nilai-nilai mulia, mematikan kapabilitas yang Allah titipkan kepada mereka, menghalangi umat ini untuk meraih kemuliaannya dan pengaruhnya di mata dunia.

   Jika kita bandingkan cita-cita generasi umat sekarang ini dengan generasi para Nabi dan kaum mukminin yang Allah ceritakan dalam Al-Qur'an dan yang memenuhi lembaran-lembaran buku-buku sirah, niscaya kamu akan mendapati generasi umat sekarang ini bak musibah yang menghimpitmu dan hampir menghilangkan kesadaranmu.

    Oleh karena itu sudah sepatutnya kita sebagai murabbi menanamkan sejak kecil untuk mengetahui bahwa umat Islam menunggu generasi yang baik dan kamu termasuk didalamnya umat Islam mengharapkan setiap generasi Islam menjaga kemuliaan Islam dan membantunya dalam menghadapi segala bentuk musibah dan perubahan zaman dengan ungkapan-ungkapan:

   Wahai anakku! persiapkanlah dirimu untuk mewujudkan kemenangan dengan tanganmu. Wahai anakku, bukankah kemenangan Islam dicapai lewat tangan-tangan generasi-generasi pilihan seperti Abu Bakar pada hari Riddah (murtadnya manusia sepeninggal Rasulullah), Imam Ahmad pada hari Mihnah (cobaan dan fitnah tentang Al-Qur'an) bukankah kamu seorang lelaki seperti mereka? Wahai anakku, ingatlah firman Allah:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik." (Al-Ankabut:69)

    Tidakkah kamu mengetahui bahwa ketika kamu mengalahkan hawa nafsumu untuk merealisasikan perkara ini, maka kamu akan mendapatkan pahala Insya Allah, baik kemenangan nantinya tercapai melalui tanganmu atau tangan orang lain ?. dan ungkapan-ungkapan lainnya yang dapat memotivasinya untuk berpartisipasi dalam merealisasikan cita-cita dan harapan umat ini.

3. Mencemooh

   Disebabkan karena bergelimang dalam kenikmatan, buah tarbiyah yang salah, lalai dari janji dan ancaman Allah bagi orang-orang pendosa dan kafir, akhirnya tumbuh dalam generasi kita sekelompok generasi yang tidak mengenal melainkan cemoohan dalam perkataan dan perbuatan, Jika disebutkan orang yang memiliki kedudukan dihadapannya, maka mereka mencetuskan syubhat seputar cara pencapaian kedudukan ini. Jika disebutkan dihadapannya orang kaya, maka dia bercakap dan membahas cara dia mendapatkan kekayaannya. jika disebutkan dihadapan mereka orang fakir, maka setiap diri mereka merasa berlepas diri dari mereka dan merasa bahwa kekayaannya adalah hasil usaha tangannya.

   Disebabkan karena menyebarnya penyakit ini di kebanyakan orang, maka anak-anak kecil pun terpengaruh sebelum mencapai dewasa, perhatikanlah ketika kamu mengendarai mobilmu bersama anakmu, anakmu memandangmu memiliki istana, berkendaraan mewah, berpakaian indah, kemudian ketika melihat orang yang berpenampilan kumuh mengendarai mobil yang telah tergeser oleh zaman tiba-tiba anakmu mencemoohkannya dan berkata, "Wahai ayah, lihatlah mobil ini dan lihatlah lelaki ini...

     Tidak hanya sebatas ini saja, parahnya lagi kamu dapatkan dia mencemooh Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, hari akhir, mencemooh para wali dan para ulama yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, Allah Ta'ala berfirman :

 ٱلَّذِينَ يَلْمِزُونَ ٱلْمُطَّوِّعِينَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ فِى ٱلصَّدَقَٰتِ وَٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ ٱللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih." (at-Taubah: 79)

    Contoh-contoh nyata ejekan dan cemoohan yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an masih dapat anda temukan dalam kehidupan sekarang hingga hari kiamat.

    Kemungkinan, penyebab seorang anak dapat berperilaku seperti ini adalah:

  • Mereka melupakan timbangan ilahiyah yang Allah berikan kepada hamba-Nya agar digunakan sebagai patokan dalam menilai, menaati, memuliakan, menghormati dan mendahulukan. Sebagaimana firman Allah :

  إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ  

"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu." (al-Hujurat:13)

  • Lalai dari siksaan yang Allah siapkan untuk mereka didunia dan diakhirat Pura-pura bodoh dengan peringatan Allah dan larangannya. 
  • Mengganti timbangan dan patokan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk hamba-Nya sebagaimana dijelaskan diatas dengan timbangan dan patokan jahiliyah seperti jenis, nasionalis, dan kesukuan.

    Agar anak didikmu tidak terperosok dalam kubangan busuk yang menggenang didalamnya lumpur-lumpur ujub, keangkuhan, kesombongan dan meremehkan orang lain maka kita sebagai pendidik harus memperhatikan perkara-perkara dibawah ini:

  1. Anak didikmu harus mengetahui dengan benar bahwa sebagian ejekan dapat mengeluarkan seseorang dari bingkai islam, seperti mengejek Allah, Malaikat-Nya dll.
  2. Anak didikmu harus mengetahui akbiat buruk dibalik ejekan, dan cemoohan dan sikap merendahkan kaum muslimin, dia harus tahu bahwa Allah telah mengancam dengan siksaan pedih.
  3. Anak didikmu harus tahu bahwa semua nikmat yang dia peroleh itu dari Allah, dan harus tahu pula bahwa kemiskinan, kesempitan, dan kelemahan yang menimpa seseorang itu juga dari Allah, maka hendaklah dia memuji Allah atas nikmatnya, mensyukuri karunia-Nya dan memohon keselamatan dari adzab Allah.
  4. Anak didikmu harus tahu, bahwa bisikan setan yang menyerumu untuk berbangga diri dan merendahkan orang lain karena memiliki keutamaan, kedudukan... maka ketahuliah sesungguhnya kamu tidak memliki kuasa sama sekali untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan semuanya adalah karunia dari Allah.                                                                    

    Apabila anak didikmu bangga dengan hartamu seperti mobil, rumah... kemudian anakmu meremhkan orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat ini, maka katakanlah kepada anakmu: "Wahai anakku... siapa yang memberikan nikmat ini kepada kita?" Dia akan menjawab:"Allah", maka pada saat itu, kamu katakan kepadanya: "Sesungguhnya yang memberikan kepada kita nikmat dan menghalangi orang lain dari nikmat ini adalah Allah dan dia maha kuasa untuk menghalangi kita mendapatkan nikmat ini, maka pujilah Allah dan bersyukurlah kepada-Nya dan mohonlah keselamatan kepada Allah. InsyaAllah pengarahanmu yang kamu berikan kepada anak didikmu akan berbekas pada dirinya, mencemooh, aka dia akan ingat Dzat yang memberi nikmat lalu dia akan memujinya.

   Inilah 3 kesalahan dalam mendidik anak yang dapat saya sodorkan kepada para pembaca, walaupun belum memadai sebab masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang harus diketahui oleh setiap murabbi. Di akhir pembahasan ini, penulis buku ini ingin berwasiat kepada para pemerhati pendidikan untuk mengadakan studi dan penelitian kesalahan-kesalahan dalam mentarbiyah anak dari segala sudut pandang, disertai dengan penjelasan akibat-akibat buruk yang dihasilkan dari tarbiyah yang salah dan diikuti dengan penjelasan manhaj yang benar dalam mencari solusi-solusi untuk kesalahan diatas.

   Tema ini (mengatasi kesalahan-kesalahan dalam tarbiyah) perlu untuk dipelajari, didiskusikan dan dibersihkan dari segala kesalahan-kesalahan yang menyertainya karena tema ini langsung bersentuhan dengan keadaan umat kesehariannya, tema yang memiliki peranan penting dalam meluruskan jalan titian umat ini, bahkan kebutuhan umat Islam terhadap tema ini sama dengan kebutuhan umat Islam terhadap penjelasan manhaj Islam dalam mentarbiyah generasi Islam seluruhnya.

   Penulis buku ini berwasiat kepada para da'i, guru, dosen dan juru dakwah mengangkat tema ini di mimbar-mimbar mereka, seminar-seminar mereka, dan pelajaran-pelajaran mereka. Karena mereka memiliki pengaruh yang lebih besar dan lebih luas dan Allah telah memberika kepada mereka sambutan dan penerimaan dari kebanyakan orang yang tidak Allah berikan kepada orang lain.

  Shalawat serta salam semoga tercurah atas hambanya, Rasulnya, Yaitu Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, dan para sahabatnya.

           الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ                                            

Komentar